
Manusia sudah mencoba menyelidiki segala sesuatu yang terkait dengan kejiwaan sejak zaman dulu. Lalu muncul disiplin ilmu jiwa atau psikologi yang terlus berkembang hingga sekarang.
Sigmund Freud, seorang pakar psikoanalisa, menyatakan bahwa prilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian, yakni id (animal), ego (rasional), dan super ego (moral). Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan biologis manusia, yang juga meliputi pusat insting dan hawa nafsu. ada dua insting dominan, yaitu thanatos atau insting destruktif agresif yang merupakan insting kematian, dan libido atau insting reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan konstruktif. Dapat juga disebut sebagai instingkehidupan (eros) yang menurut Freud tak hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga menyangkut kasih Ibu, kasih Ayah, pemujaan kepada Tuhan, dan cinta diri (narcis).
Jika insting kehidupan (eros) seorang anak mendadak tidak terpenuhi (misalnya karena kedua orangtua bercerai, atau salah satu dari mereka meninggal), biasanya akan terjadi perubahan prilaku. Anak akan bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), dan bernafsu untuk memenuhi kebutuhannya sesegera mungkin. Kesenagan yang tidak terpenuhi akan menyisakan kekecewaan mendalam.
Analisis Sigmund Freud tentang jiwa tentulah sesuai dengan situasi dan kondisi yang melingkunginya dan mempengaruhi alam pikirannya, yaitu budaya Barat yang sekuler, bersumber pada penelitian yang mengandalkan akal pikiran atau logika intelektual yang jauh dari konsep Agma (logika Spiritual) tentang jiwa manusia.
Abu Sangkan menyatakan bahwa dalam terminologi etika, an nafs berarti khayalan atau angan palsu dari ego manusia yang terpisah dan independen. Al-Qur'an dalam surat Yusuf ayat 53 menyebutkan nafs juga berarti diri dan dalam surat Az-Zumar ayat 42 nafs diartikan sebagai jiwa.
Al-Qur'an membagi jiwa dalam tiga kategori, yaitu nafsu amarah, nafsu lawwamah, dan nafsu mutmainnah. Nafsu amarah adalah nafsu yang selalu mendorong kepada kejahatan.
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Yusuf : 53 ).
Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang selalu membuat seseorang merasa tidak puas dengan apa yang telah diperolehnya dan berusaha berbuat dan memperoleh sesuatu yang lebih baik dari yang sudah diperoleh.
Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) (QS. Al-Qiyamah : 2).
Ketidakpuasan dalam hal-hal yang positif, membuat tarikan nafsu lawwamah ditumbuhkembangkan. jika ketidakpuasan terjadi untuk hal-hal yang negatif (mencuri, merampok, berzina, dan perbuatan melanggar hukum lainnya), tarikan nafsu lawwamah harus diabaikan.
Nafsu Mutmainnah adalah nafsu yang tenang. Nafsu inilah yang patut dimiliki dan terus dijaga oleh setiap manusia. Nafsu inilah yang dipersilahkan Allah memasuki Syurga-Nya. Renungkan ayat 27-30 Surat Al-Fajr.
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam jmaah hamba-hamba-Ku, masuklah kedalam Syurga-Ku (QS. Al-Fajr : 27-30 ).
Nafsu Mutmainnah selalu mendorong pemiliknya untuk menjadi manusia sejati, memiliki kesadaran dan jati diri, mengerti dan mampuh memknai arti hidup dan kehidupan, sekalidus mengerti dan mampuh memaknai arti kebahagiaan. Pemilik Nafsu mutmainnah sangat yakin akan firman Allah
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lhernya. ( QS. Qaaf :16 ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar